Jakarta. Film dokumenter Harimau yang Lapar (Hungry is The Tiger) produksi PT Media Desa Indonesia dengan sutradara Gary Hayes lolos dalam seleksi untuk kompetisi AsiaticaFilmMediale di Roma, Italia, yang berlangsung 1-2 November.
Dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (27/10), produser eksekutif film ini, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan, lebih penting dari lolosnya Harimau yang Lapar ke kompetisi tersebut adalah upaya film ini menggambarkan pentingnya usaha menahan krisis pangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Harimau mengambil pelajaran dari ”Revolusi Putih” di India yang dimulai lebih dari 50 tahun lalu oleh ahli gizi dari India dan konsultan gizi UNICEF, Dr Verghese Kurien. Revolusi Putih adalah gerakan di komunitas dalam memanfaatkan susu ternak sapi sebagai sumber gizi dan sumber pendapatan keluarga.
Pelakunya adalah perempuan di rumah-rumah tangga yang memelihara satu atau dua ekor sapi. Bukan hanya gizi keluarga terpenuhi, jutaan peternak kecil itu juga menjadikan India sebagai eksportir 15 persen susu dunia.
Dari pengalaman India, film ini menggambarkan situasi Indonesia yang kaya sumber daya alam, tetapi ada 38 juta orang hidup dengan penghasilan kurang dari Rp 10.000 per hari.
”Indonesia dulu pernah jaya, disebut sebagai salah satu macan Asia. Sekarang macan itu sedikit loyo. Melalui film ini kami ingin menunjukkan, di komunitas-komunitas ada cara mengatasi kemiskinan dan kurang gizi, antara lain, dengan memanfaatkan ternak kambing dan sapi. India bisa, kita harusnya juga bisa,” kata Hashim.
Film yang narasinya disampaikan Christine Hakim ini, menurut produsernya, Rob Allyn, menampilkan upaya mengatasi kemiskinan dengan cara-cara yang asli dari masyarakat negara berkembang. Koproduser, Dewi Beck, mencontohkan antara lain upaya seorang bidan di Bogor yang mengajak masyarakat meminum susu kambing mereka.
”Ibu bidan itu mengajari menambahi jahe dan gula merah pada susu kambing supaya penduduk mau minum susu itu,” kata Dewi.
Film ini akan ditayangkan perdana untuk publik Jakarta pada 7 Januari di bioskop dan setelah itu akan juga ditayangkan cuma-cuma di layar-layar tancap.
Sumber: Kompas – 28 November 2009













